Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Understanding Change Management

Understanding Change Management

Sering kita mendengar istilah manajemen perubahan (change management). Namun pertanyaan yang mendasar bagi orang awam adalah mengapa perubahan perlu dikelola? Bukankah perubahan merupakan sesuatu yang alami yang terjadi dalam hidup kita sehingga perubahan akan terjadi dengan sendirinya tanpa kita perlu melakukan apapun? Artikel ini mencoba menjelaskan hakekat dari pengertian tentang manajemen perubahan dan mengapa perubahan perlu dikelola.


Mari kita pahami tentang hakikat perubahan. Semua hal di dunia ini selalu dimulai (start) dengan awal (beginning) dan akan diakhiri (finish) dengan suatu akhir (ending). Namun ternyata, ada satu hal yang tidak mengikuti pola start/begin dan finish/end, yaitu perubahan. Secara konseptual perubahan merupakan suatu peristiwa yang diawali dari akhir (start with end), menuju ketidakpastian (explore) dan berakhir pada awal yang baru (finish with new beginnning). Sebagai contoh ketika seorang pemuda yang selama ini hidup lajang dan memutuskan untuk menikah atau menghakhiri masa lajangnya, maka pada titik pemuda tersebut mengambil keputusan untuk menikah, maka pada titik tersebut terjadi perubahan dalam hidupnya (fase end), selanjutnya keputusan tersebut akan membawa konsekuensi ketidakpastian yang disebut masa ekplorasi, dimana kebiasaan-kebiasaan lama yang dilakukan pemuda tidak relevan lagi, dan pemuda tsb akan menghadapi hal-hal yang tidak biasa atau hal-hal yang belum pernah dia alami sebelumnya. Fase ekplorasi diwarnai dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, hal-hal yang penuh dengan ketidakpastian, dan sering orang berpikir untuk kembali ke masa lalu. Situasi yang tidak menyenangkan yang terburuk akan terus terjadi sampai pemuda tadi memiliki sikap pasrah, yaitu membuka diri, membuka pikiran, dan membuka hati untuk menerima dan beradaptasi dengan situasi yang baru. Pada tahap ini maka akan terjadi suatu yang “move on” dimana pemuda tadi akan mencoba beradaptasi, berekperimen, mendapatkan hal postif baru, dan akhirnya mampu mengintegrasikan hal-hal positif tsb menjadi suatu kemanfaatan terhadap dirinya. Pada situasi pemuda tadi telah mampu menyesuaikan dan mendapatkan manfaat positif dari kehidupan pernikahannya, maka sebenarnya siklus perubahan yang dialami telah mencapai fase new beginning, yaitu fase akhir dari suatu perubahan.


Dari contoh di atas dapat kita pahami bahwa mengapa perubahan perlu dikelola, karena ternyata perubahan yang dihadapi oleh semua orang merupakan situasi yang tidak menyenangkan dan secara alami dan normatif seseorang akan cenderung menolak perubahan walaupun di sisi lain perubahan merupakan suatu yang pasti akan terjadi. Situasi yang tidak menyenangkan pada fase ekplorasi perubahan merupakan sikap mental dari semua manusia normal. Ketika suatu yang biasa berakhir maka selanjutnya adalah yang tidak biasa. Ketika sesuatu yang sudah stabil berakhir maka selanjutnya akan muncul sesuatu yang tidak stabil. Ketika sesuatu yang nyaman berakhir maka selanjutnya akan muncul sesuatu yang tidak nyaman. Sikap mental seseorang dalam menghadapi perubahan inilah ternyata memerlukan pengelolaan yang tepat agar proses perubahan tsb dapat terjadi secara efektif.


Sikap mental yang timbul dalam diri manusia sewaktu menghadapi perubahan oleh Elisabeth Kubler-Ross digambarkan dalam skema sbb;





Gambar 1. Siklus Sikap Mental Menghadapi Perubahan Sumber: Adposi dari A cycle of Change for People and Businesses, Elisabeth Kübler-Ross



Jika kita mundur sejenak, mengapa perubahan terjadi, terutama perubahan yang terjadi dalam dunia profesional. Maka secara sederhana, dapat kita simpulkan bahwa perkembahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan hasil usaha manusia menciptakan sesuatu untuk mempermudah hidupnya berdampak terhadap pola rantai pasok (supply chain) secara menyeluruh (sistemik). Sebagai contoh perkembahan teknologi internet yang mendorong produksi gadget atau smart phone secara masif, menyebabkan hampir semua orang memiliki akses kepada internet dan informasi on line. Hal ini selanjutnya mendorong produsen menyediakan produknya secara on line. Produk seperti transportasi on line, belanja on line, dan sebagainya menunjukkan bagaimana produk-produk tersebut mendominasi industri dan mengalahkan dengan telak produk konvensional. Secara skema perubahan yang dihadapi oleh para profesional dalam organisasi didorong oleh perubahan eksternal yang terjadi sbb;


Gambar 2. Faktor Pendorong Perubahan


Price Pritchett, seorang ahli dalam manajemen perubahan menyatakan bahwa ada 3 hal yang perlu kita pahami terkait mengelola perubahan, yaitu; 1) perubahan pasti akan datang bahkan akan datang lebih cepat, 2)sebagaimanapun baiknya kita merencanakan suatu perubahan dalam manajemen pasti tetap akan timbul masalah, 3)oleh karena itu, semua pihak yang terlibat dalam perubahan perlu mengambil tanggungjawab aktif dalam mengelola perubahan. Secara sederhana apa yang dikatakan oleh Price Pritchett adalah perubahan memerlukan komunikasi dan koordinasi yang efektif dalam semua pihak menghadapi dan melaksanakan manajemen perubahan. John Kotter dari Harvard Business School memperkenalkan 8 langkah dalam mengelola perubahan, yaitu:





Gambar 3. Langkah Mengelola Perubahan 

Sumber: Leading Change, John Kotter

Dalam komunikasi ada 5 tahapan yang perlu dilakukan secara berurutan, yautu tahap penyebaran informasi untukmembangun awareness, tahap memberikan pemahaman, tahap menyepakati, tahap membangun komitmen, dan tahap mendatangkan tanggungjawab. Kelima tahapan ini tidak dapat diloncat atau dihilangkan. Namun kelima tahapa ini perlu dibangun secara konsisten dan berkesinambungan. Bahkan dalam melaksanakan implementasi manajemen perubahan, kita perlu mengukur kesiapan perubahan dari masing-masing unit organisasi yang terlibat dan mengetahui ada pada tahapan mana kesiapan masing-masing unit organisasi terhadap tahapan komunikasi perubahan yang telah terjadi. Selanjutnya jika kita sistensiskan konsep 8 tahapan perubahan John Kotter ke dalam 5 tahapan komunikasi perubahan, maka kita dapat kita lihat sbb;





Gambar 4. Tahapan Komunikasi Perubahan


Sebagai kesimpulan, dapat kita pahami bahwa mengelola perubahan merupakan suatu kegiatan yang kritis dan signifikan bagi organisasi yang sedang melakukan implementasi program atau melakukan penerapan strategi. Keberhasilan penerapan strategi atau improvement program dari suatu organisasi selain tergantung dari ketepatan substansi startegi atau program, juga tergangung kepada kejelasan dalam komunikasi perubahan untuk membangun tanggungjawab setiap stakeholder dalam melaksanakan perubahan dari implementasi strategi atau program organsiasi. Komunikasi perubahan mulai dari membagun awareness sampai mendapatkan tanggung jawab semua pihak dalam masa transisi, merupakan hakikat dalam menjalankan manajemen perubahan.

DR. MARTINUS TUKIRAN

Cognoscenti Consulting Group sebagai perusahaan konsultansi bidang manajemen, memiliki banyak pengalaman dalam membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perbaikan proses kerja. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik mulai dari penyusunan strategi hingga proses implementasi di tingkat operasional dan audit untuk menemukan perbaikan. Jika ada hal yang ingin anda diskusi dengan kami, silahkan jangan segan untuk menghubungi Cognoscenti Consulting Group. www.ccg.co.id / 021. 29022128


Bagaimana Membangun Nilai Pada Sebuah Tim Kecil

Bagaimana Membangun Nilai Pada Sebuah Tim Kecil

https://hbr.org/2018/04/how-to-establish-values-on-a-small-team
ditulis oleh: Amelia Friedman 
Diterjemahkan: Lukas


Ketika Tony Hsieh, pendiri Zappos, ditanya apa yang akan dia lakukan berbeda jika dia dapat memulai kembali perusahaannya dari awal, dia menjawab dengan ini: "Jika saya bisa kembali dan melakukan Zappos lagi, saya benar-benar akan datang dengan nilai-nilai kami dari hari pertama."


Mengembangkan nilai-nilai perusahaan Anda di awal sejarah perusahaan Anda dapat memiliki dampak yang langgeng dan positif pada organisasi Anda dan budayanya, dan itu lebih mudah dilakukan ketika tim Anda kecil. Lagi pula, lebih mudah untuk mengarahkan speedboat empat orang daripada kapal pesiar 2.000 orang. Setelah tim Anda tumbuh lebih besar, mungkin akan sulit untuk mencapai konsensus pada nilai-nilai Anda yang seharusnya.


Saya telah bekerja dengan beberapa organisasi kecil karena mereka telah menetapkan prinsip budaya bisnis mereka - yang paling baru, saya menjalani proses pengembangan nilai-nilai perusahaan di startup teknologi saya sendiri. Ketika kami pertama kali menyusun dan mengintegrasikan nilai-nilai kami, kami adalah tim empat orang. Kami menghabiskan beberapa minggu untuk mengembangkan nilai-nilai perusahaan kami bersama-sama, mendiskusikan bagaimana nilai-nilai harus diterjemahkan (dan karenanya diterapkan), dan kemudian mengintegrasikannya ke dalam proses dan budaya kami. Setahun kemudian, kita 21 orang dan terus bertambah, dan tim kami masih mereferensikan nilai ini beberapa kali sehari. Baik Anda menjalankan startup atau bisnis kecil, berikut cara Anda melakukan hal yang sama.


1.Kembangkan nilai-nilai perusahaan Anda bersama

Menyusun pernyataan nilai dalam daftar dan kemudian mewajibkan tim untuk mengikutinya jarang menghasilkan dampak yang efektif. Seseorang tidak bisa hanya diberitahu apa yang dianggap bermakna - sistem nilai adalah sesuatu yang Anda kembangkan selama bertahun-tahun, dan tidak mudah untuk berubah dalam semalam. Dalam kasus perusahaan saya, kami menyertakan semua orang di tim kecil kami dalam proses itu sehingga kami dapat memanfaatkan nilai-nilai yang telah dipegang orang dan mengungkap nilai-nilai inti yang kami, sebagai sebuah organisasi, telah hidup. Ini membantu kami menghindari nilai-nilai aspiratif tetapi pada dasarnya tidak berarti yang sering dikenakan oleh pemimpin pada suatu organisasi dalam upaya untuk memahat kembali budaya. Nilai yang diresmikan dengan semua orang yang berpartisipasi lebih cenderung unik untuk perusahaan Anda - dan nilai yang berbeda berkorelasi dengan kinerja yang lebih baik.




2. Beri orang kesempatan untuk merenung dan berkontribusi dengan penuh pemikiran.

Kami memulai proses dengan merefleksikan secara independen nilai-nilai perusahaan kami yang sudah ada (dan belum terucapkan), serta pendapat kami tentang sistem nilai yang paling sesuai untuk perusahaan kami. Kami meminta semua anggota tim untuk mulai memikirkan pertanyaan seperti: Apa yang Anda hargai? Nilai-nilai apa yang tidak terucapkan telah berkontribusi terhadap kesuksesan kami hingga saat ini? Apa kesamaan karyawan yang sukses? Nilai-nilai apa yang harus mengatur cara kita berinteraksi satu sama lain dan dengan pelanggan kita? Kami mengirimkan daftar lengkap pertanyaan-pertanyaan ini beberapa hari sebelum pertemuan yang dijadwalkan.



3. Keluarkan semua ide yang ada dan kemudian kelola setiap ide tersebut.

Ketika kami duduk bersama, kami mulai dengan mencantumkan semua nilai potensial di papan tulis. Ini adalah latihan independen dengan semua orang menulis di papan pada saat yang sama, dan setiap kali hanya sedikit ide yang disampakan, saya akan menyampaikan dorongan lain untuk memacu lebih banyak ide. Setelah 15 menit atau lebih (ketika kami kehabisan saran), kami meminta semua orang untuk menarik selembar kertas, secara mandiri memilih sepuluh nilai yang mereka pikir akan berdampak, dan memberi peringkat nilai-nilai tersebut sesuai dengan kepentingannya.


4. Secara kolaboratif mengidentifikasi daftar nilai yang singkat.

Kami membandingkan daftar kami dan menetapkan nilai poin untuk setiap nilai. Jika nilai itu nomor 1 pada daftar seseorang, itu diberi 10 poin; jika itu # 10, ia menerima 1 poin; dan seterusnya. Kami melihat angka-angka, mendiskusikan alasan kami, dan menggunakan jumlah poin untuk mulai membuat daftar pendek. Dari sana, kami memiliki percakapan terbuka tentang apa yang kami hargai sebagai perusahaan. 


5. Diskusikan Pemahaman setiap Orang

Setelah perusahaan Anda memiliki daftar nilai-nilainya, sisihkan waktu untuk mendiskusikan apa arti setiap nilai bagi Anda dan kepada rekan tim Anda dan bagaimana masing-masing dapat dan harus diterapkan dalam pekerjaan Anda sehari-hari. Ingatlah bahwa bahkan karyawan yang paling berniat baik pun mungkin dapat salah paham atau salah menerapkan nilai - apa yang sudah jelas bagi Anda sekarang ketika Anda terdidik dengan baik dalam prosesnya mungkin tidak jelas bagi karyawan yang bergabung dengan tim dua bulan kemudian. Luangkan waktu untuk menjelaskan apa yang masing-masing benar-benar berarti. Cobalah untuk menyederhanakan pemahaman yang Anda bagikan menjadi penjelasan yang jelas dan langsung tentang bagaimana Anda akan melihat, mengalami, dan menjalankan nilai-nilai itu di tempat kerja.  


6. Integrasikan nilai Anda

Carilah cara-cara untuk mengintegrasikan nilai-nilai ke dalam praktik perekrutan, orientasi dan onboarding, bonus kinerja, dan peluang promosi. Pastikan untuk menyoroti karyawan yang merupakan contoh nyata dari nilai-nilai, dan tafsirkan ulang nilai-nilai untuk berbagai situasi atau departemen, seperti yang kami lakukan untuk tim layanan pelanggan kami. Dan, biarkan nilai Anda berkembang seiring waktu. Setahun sekali, Anda mungkin mengumpulkan sekelompok pemangku kepentingan untuk mendiskusikan nilai-nilai Anda, dan menentukan apakah interpretasi Anda (atau kemudian menilai diri sendiri) mungkin perlu meninjau kembali, atau bagaimana Anda dapat mengintegrasikannya dengan lebih baik di tahun mendatang. 


Nilai-nilai yang bijaksana dan terlaksana dengan baik dapat berfungsi sebagai landasan untuk budaya yang positif dan berperforma tinggi. Sebaiknya luangkan waktu untuk membuat semua orang di halaman yang sama dengan membangun nilai-nilai perusahaan, mengembangkan pemahaman timbal balik dari mereka, dan kemudian menjadikan mereka bagian integral dari pengalaman kerja sehari-hari Anda - dan ini semua jauh lebih mudah untuk dicapai ketika tim Anda masih kecil.


Penulis : Lukas Danny Tjitrabudi, M.Sc

Cognoscenti Consulting Group sebagai perusahaan konsultansi bidang manajemen, memiliki banyak pengalaman dalam membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perbaikan proses kerja. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik mulai dari penyusunan strategi hingga proses implementasi di tingkat operasional dan audit untuk menemukan perbaikan. Jika ada hal yang ingin anda diskusi dengan kami, silahkan jangan segan untuk menghubungi Cognoscenti Consulting Group. www.ccg.co.id / 021. 29022128


5 Behaviors of Leaders Who Embrace Change

5 Behaviors of Leaders Who Embrace Change

Adopsi dari: Edith Onderick-Harvey (Harvard Business Review, May 2018,  
https://hbr.org/2018/05/5-behaviors-of-leaders-who-embrace-change)

Dalam lingkungan bisnis saat ini, kelincahan dalam perubahan (change agility) harus menjadi bagian dari DNA organisasi dan pemimpin yang baru.


Para pemimpin yang sukses dalam melakukan perubahan di semua level organisasi menanggapi perubahan dalam lingkungan bisnis dengan memanfaatkan peluang, termasuk membuang model yang lama dan mengembangkan cara-cara yang baru dalam menjalankan bisnis. Para pemimpin tersebut akan mencoba untuk membuat perubahan dalam pola berpikir yang dapat menyebar dan menanamkannya ke dalam semua hal yang mereka lakukan dari interaksi sehari-hari yang paling mendasar hingga strategi yang paling kompleks.


Pemimpin yang melakukan perubahan dapat ditunjukkan dari lima (5) perilaku yang terintegrasi bersama-sama menciptakan keunggulan kompetitif bagi organisasi. Kelima perilaku tersebut antara lain:


1. Membagikan tujuan yang jelas dan meyakinkan

Tujuan adalah untuk melakukan tindakan. Kelincahan perubahan membutuhkan sebuah jawaban atas pertanyaan, “mengapa?”, sehingga orang dapat melawan instingnya untuk menolak perubahan. Jawabannya perlu memanfaatkan apa yang bermakna dan penting, sehingga dapat mengundang orang untuk datang dan ikut terlibat dalam perubahan yang akan dilakukan. Jika anda tidak dapat mengartikulasikan tujuan yang jelas dibelakang perubahan yang dilakukan, tidak mungkin karyawan anda akan dapat menerapkannya.


2. Lihat kedepan dan lihat peluang

Sebagian besar pemimpin memandang ini sebagai peran dari senior eksekutif. Untuk menanamkan kelincahan perubahan kedalam budaya anda, para pemimpin lini tengah dan depan, yang paling dekat dengan pasar, pelanggan, dan operasional harian perlu di-dorong untuk melihat peluang yang ada dalam pekerjaan yang mereka lakukan setiap hari.



Untuk membangun perilaku ini kedalam organisasi, pemimpin seharusnya:


    a)  Mencari dan membuat peluang berdasarkan percakapan biasa yang dilakukan. Cukup ajukan               pertanyaan seperti “Apa yang dibicarakan pelanggan kami? Menurut Anda, apa yang akan                     mereka inginkan satu atau dua tahun dari sekarang? Tren baru apa yang menurut Anda akan               memengaruhi kita? ”Mengirimkan pesan bahwa melihat ke depan itu penting. 

    b) Sediakan ruang untuk bereksperimen. Ketika sebuah potensi peluang diidentifikasi, berikan ijin           bagi individiu atau kelompok untuk bereksperimen dengan ikut ambil bagian dari peluang                     tersebut. 

    c) Beriklan tentang kesuksesan. Ceritakan kisah kesuksesan para pemimpin lini depan yang                       berhasil melihat dan mengidentidikasi peluang pada saat acara kantor sehingga dapat                           memotivasi individu lainnya. 


3. Mencari tahu apa yang tidak berhasil 

Selama masa integrasi akuisisi atau bahkan penggabungan unit bisnis internal, akan ada kabar buruk dimana perusahaan perlu belajar dari hal tersebut. Tetapi agar pembelajaran yang nyata dapat terjadi, orang perlu merasa aman secara psikologis untuk berbagi hal yang baik, buruk dan jelek.


4. Mempromosikan pengambilan resiko dan eksperimen yang terkalkulasi 

Terlalu sering bagi perusahaan tradisional dalam menanggapi suatu perubahan dengan kata, “mengapa?”, akan tetapi kelincahan perubahan membuat para pemimpin berkata, “mengapa tidak?” dan selalu menciptakan berbagai macam peluang melalui eksperimen yang dilakukan.

5. Mencari kemitraan yang mencakup batas 

Ketika suatu pekerjaan menjadi lebih kompleks, maka dibutuhkan tim dan kolaborasi lintas batas untuk dapat membangun produk, menarik pelanggan dan mencapai hasil. Pemimpin dan organisasi yang lincah melakukan perubahan dapat menggantikan silo fungsional dengan organisasi formal dan informal yang dapat memungkinkan untuk arus informasi yang cepat dan pengambilan keputusan mengenai produk, pelanggan, atau wilayah.

Kelima perilaku ini, ketika digunakan bersama satu sama lain, menciptakan pergeseran budaya yang meningkatkan kelincahan perubahan. Mereka adalah pergeseran yang perlu dibuat di semua tingkat kepemimpinan.


Penulis : Yose Foejisanto, SE, M.Sc

Cognoscenti Consulting Group sebagai perusahaan konsultansi bidang manajemen, memiliki banyak pengalaman dalam membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perbaikan proses kerja. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik mulai dari penyusunan strategi hingga proses implementasi di tingkat operasional dan audit untuk menemukan perbaikan. Jika ada hal yang ingin anda diskusi dengan kami, silahkan jangan segan untuk menghubungi Cognoscenti Consulting Group. www.ccg.co.id / 021. 29022128


Intended vs Emergent Strategy

Intended vs Emergent Strategy

Ada tiga persoalan yang dihadapi organisasi dewasa ini, yaitu:

1. Alignment gap, yaitu ketidaksesuaian antara apa yang direncanakan dan apa yang dilaksanakan
2. Effect gap, yaitu ketidaksesuaian antara apa yang dilaksanakan dan akibat yang diharapkan, dan
3. Knowledge gap, yaitu ketidaksesuaian antara akibat yang diharapkan dan apa yang direncanakan terjadi (Bungay: 2011).

Suatu ungkapan yang menarik dikatakan oleh Bungay bahwa apa yang menjadi kesepakatan di dalam ruang rapat dan telah dicatat dalam notulen rapat, namun tidak juga menjadi suatu hal yang dilaksanakan dengan baik di lapangan (common understanding doesn’t become common practice). Bahkan pada rapat berikutnya organisasi sering mengulang membahas kembali masalah yang sama dan terus-menerus seperti itu dan tidak ada kemajuan yang berarti.


Banyak organisasi dewasa ini menyadari bahwa mereka perlu melakukan sesuatu lebih dari sekedar menjalankan tugas dan menghasilkan output pekerjaan. Namun mereka perlu memberikan dampak (outcome) kepada stakeholder. Pemahaman ini memberikan indikasi bahwa organisasi perlu merancang kegiatannya bukan hanya untuk mendatangkan hasil secara langsung, namun perlu memetakan akibat tidak langsung yang ingin dicapai sebagai bentuk akibat dari proses dan hasil kerja tersebut. Namun banyak organisasi tidak mampu melakukan hal ini dan hanya melakukan kegiatan organisasi berulang dari tahun ke tahun. Hal ini menjelaskan bahwa organisasi seperti ini adalah organisasi yang memiliki persoalan sebab akibat dalam operasionalnya (effect gap).


Selanjutnya Bungay menjelaskan bagaimana kesulitan organisasi dewasa ini memprediksi dan membuat asumsi terhadap hal-hal yang akan terjadi pada masa lima tahun yang akan datang. Parameter seperti indikator makro ekomomi sering kali meleset sejalan dengan efek globalisasi yang membuat keterkaitan dan saling tergantung antar negara sedemikian tinggi. Sehingga apa yang terjadi di negara lain dapat berimbas kepada negara di mana organisasi beroperasi dan akhirnya berakibat kepada perubahan pada situasi eksternal organisasi.



Sumber: Stephen Bungay, The Art of Execution. London: Nicholas Brealey Publishing, 2011

Beberapa artikel tentang bahwa strategi sudah mati (The dead of Strategy) pernah ditulis dan ramai didiskusikan. Sama seperti semua banyak hipotesis, ada yang mendukung ada juga yang menentang. Untuk memahami lebih jauh apakah benar strategi tidak diperlukan lagi oleh organisasi dewasa ini, maka kita perlu melihat dengan jernih apa hakikat strategi (ontologi), bagaimana cara kerja startegi (epistimologi), apa manfaat dari strategi (aksiologi). Menurut Michael Porter strategi adalah sekumpulan aktivitas yang dipilih oleh suatu organisasi dalam rangka menghasilkan nilai-nilai yang spesifik serta berbeda atau lebih baik dibandingkan dengan pesaing (It is a deliberate process of choosing a set of activities differently from competitors, in order to deliver a unique mix of value) (Porter:1998). Porter berpendapat bahwa strategi adalah cara untuk memberikan nilai tambah (unix mix of values) kepada pelanggan. Ada dua hal pokok yang bisa kita tangkap dari definisi strategi yang dikemukan oleh Porter, yaitu pertama bahwa strategi adalah sebuah pilihan dari berbagai alternatif yang bisa dipilih dan yang kedua adalah bahwa strategi merupakan sarana (cara) untuk memberikan nilai tambah. Strategi diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah kepada pelanggan yang merupakan kunci dalam menjaga eksistensi organisasi dalam jangka panjang.

Secara garis besar dapat kita katakan bahwa memformulasikan strategi adalah kegiatan mengharmonisasikan peluang yang ada di pasar (faktor eksternal) dengan kemampuan organisasi yang ada (internal faktor). Tidak ada strategi yang benar atau strategi yang salah. Yang ada adalah apakah strategi yang diformulasikan tepat atau tidak tepat. Strategi yang tepat adalah strategi yang mampu menyelaraskan antara kekuatan organisasi dan peluang yang ada, sehingga mendatangkan manfaat yang maksimal dengan menggunakan pengorbanan yang minimal bagi organisasi.



Sumber: Membangun Organisasi Unggul, Martinus Tukiran, 2016.

Strategi merupakan pilihan cara yang dipilih oleh pimpinan puncak organisasi yang bersifat jangka panjang, menyeluruh, dan prioritas. Berdasarkan karakteriktik ini, maka perencanaan strategis organisasi yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis organisasi akan memiliki jangkauan waktu panjang ke depan (3-5 tahun). Pada saat rencana strategis itu dibuat untuk mencapai sasaran strategis tiga sampai lima tahun yang akan datang, maka proyeksi yang digunakan adalah berdasarkan asumsi. Semakin akurat asumsi yang digunakan akan mencerminkan kualitas dari perencanaan startegis yang dibuat. Konteks merencanakan startegi untuk jangka waktu yang cukup panjang ke depan merupakan konsep intended strategy, yaitu penentuan strategi berdasarkan pada analisis dinamika kompetitif dan kapabilitas saat ini.


Namun sejalan dengan waktu, pada saat startegi tersebut dieksekusi, maka diperlukan penyesuaian dan pemuktahiran data dan asumsi yang digunakan sesuai dengan dinamika eksternal dan internal organisasi yang terjadi. Melakukan pemuktahiran dan penyesuaian strategi sepanjang startegi tersebut sedang dieksekusi kita kenal dengan konsep emergent strategy. Dengan demikian kita pahami bahwa startegi bukanlah suatu obyek yang kaku, statis, dan kekal yang berada dalam ruang hampa. Strategi merupakan obyek yang dinamis bagian dari kegiatan manajemen yang perlu dilakukan pemuktahiran dan penyesuaian untuk tetap mendatangkan hasil yang optimal dari fungsi strategi itu sendiri, yaitu memberikan arah yang jelas dan tepat tentang cara yang perlu dilakukan organisasi melaksanakan kegiatan pencipataan nilai tambahnya. Konsep pemuktahiran dan penyesuaian yang mendatangkan hasil yang optimal dari strategi ini kita kenal dengan realized strategy.







Sumber : A Model of Intended, Deliberate, and Realized Strategy, Mintzberg, H., & Waters, J. A

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa strategi merupakan cara yang dipilih oleh pimpinan puncak organisasi memberikan arah dan cara yang jelas apa yang harus dilakukan oleh organisasi dalam rangka menciptakan nilai tambah dalam jangka waktu yang panjang ke depan berdasarkan asumsi yang ada pada saat strategi dibuat. Validitas dari substansi intended strategy ini adalah contruct validity yang didarkan kepada asumsi, proyeksi, pengalaman, dan entreprenership dari pimpinan puncak organsiasi. Sejalan dengan eksekusi strategi, maka substansi startegi perlu dilakukan pemuktahiran dan penyesuaian untuk dapat menghasilkan strategi yang optimal (realized strategy) dengan cara melakukan perubahan strategi yang diperlukan sesuai dengan dinamika ekseternal dan internal organisasi dalam emergent strategy. Validitas dari emergent strategy ini adalah content validity.

Penulis : Dr. Martinus Tukiran

Cognoscenti Consulting Group sebagai perusahaan konsultansi bidang manajemen, memiliki banyak pengalaman dalam membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perbaikan proses kerja. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik mulai dari penyusunan strategi hingga proses implementasi di tingkat operasional dan audit untuk menemukan perbaikan. Jika ada hal yang ingin anda diskusi dengan kami, silahkan jangan segan untuk menghubungi Cognoscenti Consulting Group. www.ccg.co.id / 021. 29022128


Menggunakan Matrix RACI dalam Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab Pelaksanaan Kegiatan

Menggunakan Matrix RACI dalam Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab Pelaksanaan Kegiatan



Pelaksana dan penanggung jawab tugas sering kali dilekatkan pada nama jabatan structural ataupun nama department. Misalnya proses pembelian dilakukan pasti akan dilakukan oleh departemen procurement, penyimpanan barang dilakukan oleh department warehouse dan sebagainya. Hal ini yang biasa terjadi diberbagai Organisasi, apakah salah? Tentu tidak. Tetapi pertanyaannya apakah tidak ada peran departemen lain yang ikut berperan atau bertanggung jawab dalam proses pembelian dan penyimpanan barang tersebut? Sebagai contoh, dalam proses pembelian perlu adanya pemeriksaan apakah pembelian tersebut sesuai budget tahunan atau barang yang dibeli sesuai dengan kebutuhan, jika tidak apa yang perlu dilakukan dan oleh siapa yang melakukan. Terkadang hal-hal tersebut menjadi grey area, karena kualifikasi pengerjaannya diluar kemampuan orang procurement tetapi department lain menganggap itu seluruhnya tugas procurement. Kegiatan tersebut perlu ada departement lain yang mengerjakan walaupun dalam proses tersebut tugasnya tidak sebagai penanggung jawab.
Untuk itu perlu adanya penugasan tanggung jawab untuk setiap kegiatan. Bentuk penugasan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan Matriks penugasan tanggung jawab (responsibility assignment matrix, RAM), atau lebih dikenal dengan istilah RACI Matrix. RACI Matrix menggambarkan peran berbagai pihak dalam menyelesaikan atau menjalankan suatu pekerjaan. Keutamaan matrix ini untuk menjelaskan peran dan tanggung jawabnya seperti apa antar bagian tersebut. 
RACI model adalah singkatan dari Responsible, Accountable, Consulted and Informed. RACI Model adalah matriks untuk seluruh aktivitas atau otorisasi keputusan yang harus diambil dalam suatu organisasi yang dikaitkan dengan seluruh pihak atau posisi yang terlibat (Smith, 2015).
Penjelasan RACI
- Responsible (R): orang yang melakukan suatu kegiatan atau melakukan pekerjaan secara langsung.
- Accountable (A): orang yang akhirnya bertanggung jawab dan memiliki otoritas untuk memutuskan suatu perkara.
-  Consulted (C): orang yang diperlukan sarannya dan berkontribusi akan kegiatan tersebut atau sebagai pihak yang menjadi support dalam pengerjaan proses pekerjaan.
-  Informed (I): orang yang perlu tahu hasil dari suatu pekerjaan yang sudah dilakukan atau orang yang mengkonsumsi hasil pekerjaan tersebut. Bisa sebagai penerima informasi/hasil pekerjaan sebagai dasar pekerjaan/proses lainnya.

Kegunaan RACI Matrix ini untuk organisasi yang dikelola adalah (Smith, 2015).:
·                     Menggambarkan peran dan tanggung jawab serta tuga masing-masing department/orang dalam melakukan suatau pekerjaan.
·                     Menghilangkan tugas-tugas yang masuk dalam grey area, tugas yang tidak jelas siapa yang menjalankannya karena tidak ada yang mengerjakan maupun tugas yang tumpang tindih antar department.
·                     Mengidentifikasi beban kerja yang telah ditugaskan kepada karyawan tertentu atau departemen
·                     Memastikan bahwa proses tertentu tidak terlalu dominan
·                     Memastikan bahwa anggota baru dijelaskan tentang peran dan tanggung jawab
·                     Menemukan keseimbangan yang tepat antara garis dan tanggung jawab pekerjaan
·                     Mendistribusikan kerja antara kelompok untuk mendapatkan efisiensi kerja yang lebih baik
·                     Terbuka untuk menyelesaikan konflik dan diskusi
·                     Mendokumentasikan peran dan tanggung jawab orang-orang dalam organisasi

Pembuatan RACI Matrix cukup mudah, seperti yang terlihat pada gambar 2, pada kolom dituliskan nama department/orang dan pada baris dituliskan kegiatan/pekerjaan. Untuk selanjutnya tentukan siapa yang berperan sebagai Responsible, Accountable, Consulted, dan Informed. Proses penentuan R, A, C dan I inilah yang menjadi proses utama dalam pembuatan RACI Matrix. Giatan yang masuk dalam grey area tersebut harus memiliki pemilik pekerjaannya.


Gambar 2 Contoh RACI Matrix, Source : Google.com
Untuk tahap selanjutnya, RACI Matrix dapat digunakan sebagai salah satu dasar analisa untuk pembuatan struktur Organisasi yang efektif dan efisien. Struktur organisai yang pembagian tugas serta tanggung jawab setiap department merata sehingga pekerjaan yang dilakukan akan menjadi lebih optimal.


 Penulis :  Eko Kusdianto, MT


Cognoscenti Consulting Group sebagai perusahaan konsultansi bidang manajemen, memiliki banyak pengalaman dalam membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perbaikan proses kerja. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik mulai dari penyusunan strategi hingga proses implementasi di tingkat operasional dan audit untuk menemukan perbaikan. Jika ada hal yang ingin anda diskusi dengan kami, silahkan jangan segan untuk menghubungi Cognoscenti Consulting Groupwww.ccg.co.id / 021. 29022118


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia